Khotbah Idul Fitri, Ketua Pengadilan Agama Waingapu Jelaskan Implementasi Takwa dalam Kehidupan

SAMSUMBA.com - Ketua Pengadilan Agama (PA) Waingapu, H. Fahrurrozi Zawawi menyampaikan Khotbah Idul Fitri di Lapangan Pahlawan, Senin (31/3/2025). Salah satu pembahasan khotbah itu tentang implementasi takwa dalam kehidupan.

“Kita diwajibkan untuk berpuasa selama Ramadhan supaya kita menjadi manusia yang bertakwa, la’allakum tattaqun. Kita tidak asing lagi denga kata takwa. Setiap khotbah Jumat selalu ada seruan bertakwa. Tentu bertakwa tidak dibatasi hanya selama Ramadhan. Kita harus bertakwa di mana saja dan kapan saja tanpa terikat oleh ruang dan waktu. Rasulullah SAW bersabda, Ittaqillaha Haitsuma Kunta. Bertakwalah di manapun dan kapanpun berada!” pesannya di hadapan ribuan umat Islam se-Kecamatan Kota Waingapu, Kambera dan sekitarnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, pasca Ramadhan umat Islam harus terus menjaga ketakwaan. Hendaklah melakukan seluruh perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya untuk mengejar la’allakum tattaqun. Tetapi diingatkan agar tidak hanya fokus mengejar ketakwaan pada ibadah-ibadah yang bersifat individual, seperti shalat, puasa dan mengaji Al-Quran, karena dampaknya hanya untuk diri sendiri saja. Lebih dari itu, harus ditingkatkan kualitas takwa menjadi berdimensi sosial yang membawa kebaikan bagi orang lain.

Menurut Ketua PA Waingapu, dalam Al-Quran ditemukan banyak ayat yang menunjukkan keterkaitan takwa dengan dimensi sosial. Misalnya Surat Al-Maidah Ayat 8 yang artinya, “Janganlah kebencianmu terhadap suatu golongan, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah”.

Dikatakannya, firman Allah itu mengingatkan kepada siapa saja, seperti para pemimpin, pejabat dan hakim untuk berlaku adil. Jangan karena tidak suka atau benci kepada orang lain, lalu berlaku tidak adil. Jangan karena perbedaan suku, agama atau pilihan politik, tidak bersikap adil. Orang yang bertakwa akan selalu berlaku adil.

“Pemimpin yang bertakwa akan memimpin dengan adil, akan memperlakukan rakyatnya dengan adil, bantuan sosial (bansos) akan dibagikan kepada rakyat yang berhak menerimanya, bukan kepada rakyat yang memilihnya saja. Jalan-jalan akan diaspal secara merata tanpa mempertimbangkan apakah masyarakat di sekitar itu memilihnya atau tidak. Pemimpin tidak boleh menyimpan sifat pendendam. Sebaliknya, rakyat yang bertakwa akan menilai pemimpinnya secara adil dan objektif. Bukan didasari oleh kebencian karena perbedaan pilihan politik,” terangnya.

Lebih lanjut dipesankan agar umat Islam mengimplementasikan takwa dengan memegangi firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Qashash Ayat 77 yang artinya, “Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Contoh berbuat baik, di antaranya, berlaku jujur dan tidak berbohong, suka melayani, membantu dan menolong orang lain, menjaga integritas dan tidak mau menerima suap, berperilaku sopan, tidak sombong, tidak merendahkan dan menghina orang lain, menjaga amanat, tidak menipu dan tidak mau mengambil barang yang bukan haknya.

Bahkan berbuat baik, imbuhnya, juga harus dilakukan kepada umat agama lain. Selama orang itu baik, harus diperlakukan secara baik sesuai firman Allah dalam Surat Al-Mumtahanah Ayat 8 yang artinya, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu”.

“Kita harus menghormati dan menghargai saudara-saudara kita yang beda agama, tidak boleh menyakiti mereka dengan merendahkan dan mengolok-olok sembahan mereka, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-An’am Ayat 108, Wala Tasubbul ladzina Yad’una min dunillah. Janganlah kamu menghina sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah. Walaupun kita meyakini bahwa agama kita yang paling benar di sisi Allah tetapi kita tidak boleh memaki-maki dan mencela sembahan-sembahan agama lain,” tegasnya.

Selain itu, Ketua PA Waingapu juga mencontohkan implementasi takwa dalam wujud tidak berbuat maksiat dan dosa di muka bumi.

“Karena itu, jangan kotori Bumi Sumba ini dengan dosa. Jangan ada pencurian, korupsi, penyelewengan jabatan, mabuk-mabukan, judi (judi online atau offline), pemerkosaan dan perzinaan. Jangan ada pasangan laki-laki dan perempuan hidup bersama tanpa ikatan perkawinan, jangan ada suami yang melakukan kekerasan (KDRT) kepada istrinya, jangan ada suami yang menelantarkan keluarganya, jangan ada istri yang suka melawan suaminya dan tidak pandai bersyukur, jangan ada pengkhianatan dalam rumah tangga,” tandasnya.

Ditambahkan, di Bumi Sumba jangan sampai ada anak yang durhaka kepada orang tuanya, jangan sampai ada kakak beradik bertengkar bahkan memutus hubungan silaturrahmi gara-gara rebutan warisan. Hubungan dengan tetangga harus baik, jangan mengganggu dan menyakiti tetangga. Jangan mengalirkan air kotoran (limbah) ke tanah tetangga.

“Sekali lagi, jangan nodai Bumi Sumba ini dengan dosa dan perbuatan tercela. Mari kita jaga kesucian Tanah Sumba dari kedhaliman, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan,” serunya. (yad)

“Aku tidak bermaksud kecuali melakukan perbaikan yang membawa kebaikan bagi semua orang sesuai kesanggupan dan kemampuanku. Dan yang memberi pertolongan untuk mencapai tujuan itu hanyalah Allah” (Al-Quran, Surat Hud Ayat 88)