“Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat
183, Allah menggunakan redaksi Kutiba ‘Alaikumus Shiyam, artinya,
diwajibkan atas kalian puasa. Allah tidak menggunakan kalimat bahwa Allah
mewajibkan kalian berpuasa, tetapi memilih kalimat pasif. Walaupun ayat ini tidak menampilkan siapa yang mewajibkan tetapi sudah jelas bahwa Allah yang mewajibkan puasa. Dengan redaksi seperti ini, diharapkan manusia mampu mewajibkan dirinya untuk berpuasa karena puasa itu sejatinya kebutuhan
manusia sendiri. Puasa itu mempunyai faedah dan manfaat yang sangat berguna
bagi manusia,” terangnya.
Ketua PA Waingapu lalu merinci nilai-nilai
yang terkandung dalam puasa Ramadhan yang dijelaskan Syaikh Ahmad Musthofa
Al-Maraghi dalam kitabnya, Tafsir Al-Maraghi.
“Pertama, puasa itu melatih manusia
untuk takut kepada Allah, baik saat sedang sendiri maupun di tengah keramaian. Puasa
menguji kejujuran kita. Karena yang tahu apakah kita puasa atau tidak hanya
kita dan Allah. Bisa jadi di depan orang kita mengaku puasa, tapi pas di kamar
kita makan, pas wudhu kita minum. Jangan sampai kita takut kepada Allah hanya
ketika dilihat orang banyak,” jelasnya.
Semestinya dalam hidup sehari-sehari,
sambungnya, setiap manusia selalu takut kepada Allah, karena walaupun orang
banyak tidak melihat tetapi Allah melihat aktivitas manusia sekecil apapun. Hendaklah
manusia takut untuk mengambil barang yang bukan haknya, mengambil uang kantor,
mengambil uang rakyat, mengambil kas masjid, mengambil uang pembangunan masjid atau
madrasah. Bisa jadi orang lain tidak tahu, namun Allah Maha Tahu. Tidak ada
yang luput dari penglihatan Allah. Puasa meningkatkan kualitas hidup karena
manusia akan selalu merasa diawasi oleh Allah.
“Kedua, puasa itu untuk menaklukkan
hawa nafsu. Rasulullah SAW bersabda, Wahai para pemuda, barangsiapa di antara
kalian mampu menikah maka hendaklah menikah. Karena menikah dapat menundukkan
pandangan dan menjaga kemaluan. Dan, barangsiapa tidak mampu, maka hendaklah ia
berpuasa, karena puasa dapat membentengi syahwatnya. Orang yang sanggup mengendalikan
nafsu birahi, kehidupannya akan lebih baik. Sebaliknya, orang yang menuruti nafsunya,
ia tergila-gila dengan perempuan lain, ia bisa melakukan korupsi demi memenuhi
kebutuhan perempuan itu, rumah tangganya bisa berantakan, hidupnya menjadi
kacau. Puasa melatih untuk menahan nafsu agar hidup berjalan dengan baik,”
urainya.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa puasa
mengandung nilai yang ketiga yaitu menanamkan kesetiakawanan, kepedulian dan kepekaan
sosial. Ketika seseorang merasa lapar karena tidak makan beberapa jam, ia akan
sadar bahwa seperti inilah kondisi yang dialami oleh saudara-saudaranya yang
hidup di bawah kemiskinan. Mereka tidak makan bukan hanya hitungan beberapa jam, tetapi sehari-harinya mereka hidup serba kekurangan.
“Maka, hidup jangan hanya memikirkan
diri sendiri, hanya mengurus istri dan anak saja. Berbagilah dengan
saudara-saudara yang lain. Ingat, di luar sana ada fakir miskin, ada yatim piatu,
ada anak-anak yang tidak bisa membayar SPP sekolah, ada keluarga yang hidup
susah. Puasa mencetak manusia yang berjiwa sosial,” tegasnya.
Nilai yang keempat dari puasa adalah persamaan
derajat manusia. Dikatakan oleh Ketua PA Waingapu, orang kaya dan orang miskin
semua diwajibkan puasa. Pejabat negara dan rakyat jelata semua diwajibkan
puasa. Pada dasarnya di hadapan Allah semua manusia itu sama, yang melebihkan
hanya ketakwaannya saja.
Ditambahkan bahwa puasa mengandung nilai yang kelima,
yaitu membiasakan hidup dalam keteraturan dan kedisiplinan. Kapan saatnya
bersahur dan kapan waktunya berbuka. Jika sudah berkumandang adzan Shubuh maka
sejak saat itu tidak boleh lagi makan, minum dan berhubungan suami istri. Walaupun
hanya kurang sedikit, kurang setengah menit, tidak boleh berbuka puasa sampai
terdengar adzan Maghrib. Itulah kedisiplinan. Seperti itu seharusnya dalam
hidup. Masuk kantor jangan sampai terlambat dan sebelum waktu pulang jangan
meninggalkan kantor.
“Saya ingat dulu di kampung saya ada seorang penjahit terkenal. Lama-lama usahanya bangkrut. Kenapa? Karena tidak disiplin. Ketika ada orang datang menjahitkan pakaian dan bertanya kapan jadinya, dijawab satu minggu. Kemudian orang itu datang di hari yang dijanjikan. Namun penjahit mengatakan belum jadi, datanglah tiga hari lagi. Orang itu datang kedua kalinya dan dikatakan oleh penjahit bahwa jahitannya belum jadi, silakan datang dua hari lagi. Hasilnya masih sama. Jahitannya belum jadi, diminta datang besok sorenya. Begitulah, berkali-kali dijanjikan dan tidak ditepati. Penjahit itu tidak disiplin. Akhirnya satu per satu orang kecewa dan tidak mau menjahitkan ke situ lagi. Ini pelajaran bahwa disiplin itu penting untuk meningkatkan kualitas hidup,” ujarnya.
“Keenam, puasa membuat hidup sehat. Rasulullah SAW bersabda, Shumu Tashihhu. Berpuasalah maka kamu akan sehat. Saya ingat ketika dulu tugas di Surakarta. Pas ada acara halal bihalal warga peradilan se-Solo Raya, pembicaranya seorang dokter. Dokter itu bilang, selama Ramadhan klinik saya sepi. Tapi begitu Ramadhan selesai, masuk lebaran, klinik saya menjadi ramai. Banyak sekali keluhan orang-orang. Ini efek karena banyak minum minuman dan makan makanan yang bermacam-macam. Terbukti bahwa puasa itu menyehatkan,” tandasnya.
Di bagian akhir presentasinya, Ketua PA
Waingapu berpesan kepada hadirin agar menjaga kesehatan karena kesehatan itu
sangat mahal. Berkat kesehatan, orang bisa bekerja mencari nafkah, bisa pergi
ke masjid untuk shalat dan menghadiri kajian, bisa mengurus urusan umat dan
berjuang menegakkan nama Allah di muka bumi.
“Alhamdulillah, berkat kesehatan, saya bisa mengikuti kegiatan di Jakarta selama beberapa hari kemarin. Di sana saya menghadiri acara di Mahkamah Agung dan menghadiri silaturrahmi dengan Presiden Prabowo di Istana Merdeka. Selain itu, saya sempatkan untuk berkunjung ke Baznas Pusat. Saya bertemu dengan pimpinan Baznas dan berbicara panjang lebar mengenai kondisi umat Islam di Pulau Sumba,” ujarnya.
Setelah pemaparan materi sekitar 30 menit kemudian dibuka sesi tanya jawab. Seusai kajian dilanjutkan dengan bincang-bincang santai di teras masjid sambil menikmati kopi/teh dan gado-gado. (au)